Showing posts with label budaya. Show all posts
Showing posts with label budaya. Show all posts

Wednesday, October 2, 2013

Antropologi Sosial Budaya



Antropologi

Antropologi adalah salah satu cabang ilmu sosial yang mempelajari tentang budaya masyarakat suatu etnis tertentu. Antropologi lahir atau muncul berawal dari ketertarikan orang-orang Eropa yang melihat ciri-ciri fisik, adat istiadat, budaya yang berbeda dari apa yang dikenal di Eropa. Antropologi lebih memusatkan pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal, tunggal dalam arti kesatuan masyarakat yang tinggal daerah yang sama, antropologi mirip seperti sosiologi tetapi pada sosiologi lebih menitik beratkan pada masyarakat dan kehidupan sosialnya.


Pengertian
Antropologi berasal dari kata Yunani άνθρωπος (baca: anthropos) yang berarti "manusia" atau "orang", dan logos yang berarti ilmu. Antropologi mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial. Antropologi memiliki dua sisi holistik dimana meneliti manusia pada tiap waktu dan tiap dimensi kemanusiannya. Arus utama inilah yang secara tradisional memisahkan antropologi dari disiplin ilmu kemanusiaan lainnya yang menekankan pada perbandingan/ perbedaan budaya antar manusia. Walaupun begitu sisi ini banyak diperdebatkan dan menjadi kontroversi sehingga metode antropologi sekarang seringkali dilakukan pada pemusatan penelitan pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal.


Definisi Antropologi menurut para ahli

  • William A. Havilan: Antropologi adalah studi tentang umat manusia, berusaha menyusun generalisasi yang bermanfaat tentang manusia dan perilakunya serta untuk memperoleh pengertian yang lengkap tentang keanekaragaman manusia.
  • David Hunter:Antropologi adalah ilmu yang lahir dari keingintahuan yang tidak terbatas tentang umat manusia.
  • Koentjaraningrat: Antropologi adalah ilmu yang mempelajari umat manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka warna, bentuk fisik masyarakat serta kebudayaan yang dihasilkan.

 Dari definisi tersebut, dapat disusun pengertian sederhana antropologi, yaitu sebuah ilmu yang mempelajari manusia dari segi keanekaragaman fisik serta kebudayaan (cara-cara berprilaku, tradisi-tradisi, nilai-nilai) yang dihasilkan sehingga setiap manusia yang satu dengan yang lainnya berbeda-beda.


Sejarah
Seperti halnya sosiologi, antropologi sebagai sebuah ilmu juga mengalami tahapan-tahapan dalam perkembangannya.

Koentjaraninggrat menyusun perkembangan ilmu Antropologi menjadi empat fase sebagai berikut:


Fase Pertama (Sebelum tahun 1800-an)
 Manusia dan kebudayaannya, sebagai bahan kajian Antropologi.
Sekitar abad ke-15-16, bangsa-bangsa di Eropa mulai berlomba-lomba untuk menjelajahi dunia. Mulai dari Afrika, Amerika, Asia, hingga ke Australia. Dalam penjelajahannya mereka banyak menemukan hal-hal baru. Mereka juga banyak menjumpai suku-suku yang asing bagi mereka. Kisah-kisah petualangan dan penemuan mereka kemudian mereka catat di buku harian ataupun jurnal perjalanan. Mereka mencatat segala sesuatu yang berhubungan dengan suku-suku asing tersebut. Mulai dari ciri-ciri fisik, kebudayaan, susunan masyarakat, atau bahasa dari suku tersebut. Bahan-bahan yang berisi tentang deskripsi suku asing tersebut kemudian dikenal dengan bahan etnografi atau deskripsi tentang bangsa-bangsa. Bahan etnografi itu menarik perhatian pelajar-pelajar di Eropa. Kemudian, pada  permulaan abad ke-19 perhatian bangsa Eropa terhadap bahan-bahan etnografi suku luar Eropa dari sudut pandang ilmiah, menjadi sangat besar. Karena itu, timbul usaha-usaha untuk mengintegrasikan seluruh himpunan bahan etnografi.


Fase Kedua (tahun 1800-an)
Pada fase ini, bahan-bahan etnografi tersebut telah disusun menjadi karangan-karangan berdasarkan cara berpikir evolusi masyarakat pada saat itu. masyarakat dan kebudayaan berevolusi secara perlahan-lahan dan dalam jangka waktu yang lama. Mereka menganggap bangsa-bangsa selain Eropa sebagai bangsa-bangsa primitif yang tertinggal, dan menganggap Eropa sebagai bangsa yang tinggi kebudayaannya Pada fase ini, Antopologi bertujuan akademis, mereka mempelajari masyarakat dan kebudayaan primitif dengan maksud untuk memperoleh pemahaman tentang tingkat-tingkat sejarah penyebaran kebudayaan manusia.


Fase Ketiga (awal abad ke-20)
Pada fase ini, negara-negara di Eropa berlomba-lomba membangun koloni di benua lain seperti Asia, Amerika, Australia dan Afrika. Dalam rangka membangun koloni-koloni tersebut, muncul berbagai kendala seperti serangan dari bangsa asli, pemberontakan-pemberontakan, cuaca yang kurang cocok bagi bangsa Eropa serta hambatan-hambatan lain. Dalam menghadapinya, pemerintahan kolonial negara Eropa berusaha mencari-cari kelemahan suku asli untuk kemudian menaklukannya. Untuk itulah mereka mulai mempelajari bahan-bahan etnografi tentang suku-suku bangsa di luar Eropa, mempelajari kebudayaan dan kebiasaannya, untuk kepentingan pemerintah kolonial.


Fase Keempat (setelah tahun 1930-an)
Pada fase ini, Antropologi berkembang secara pesat. Kebudayaan-kebudayaan suku bangsa asli yang di jajah bangsa Eropa, mulai hilang akibat terpengaruh kebudayaan bangsa Eropa.
Pada masa ini pula terjadi sebuah perang besar di Eropa, Perang Dunia II. Perang ini membawa banyak perubahan dalam kehidupan manusia dan membawa sebagian besar negara-negara di dunia kepada kehancuran total. Kehancuran itu menghasilkan kemiskinan, kesenjangan sosial, dan kesengsaraan yang tak berujung. Namun pada saat itu juga, muncul semangat nasionalisme bangsa-bangsa yang dijajah Eropa untuk keluar dari belenggu penjajahan. Sebagian dari bangsa-bangsa tersebut berhasil mereka. Namun banyak masyarakatnya yang masih memendam dendam terhadap bangsa Eropa yang telah menjajah mereka selama bertahun-tahun. Proses-proses perubahan tersebut menyebabkan perhatian ilmu antropologi tidak lagi ditujukan kepada penduduk pedesaan di luar Eropa, tetapi juga kepada suku bangsa di daerah pedalaman Eropa seperti suku bangsa Soami, Flam dan Lapp.

Budaya organisasi


MEMAHAMI BUDAYA ORGANISASI

  1. Faktor eksternal; segala sesuatu yang berada di luar  organisasi (pengaruh global pada organisasi.)
  2. Faktor  internal; sumber daya yang diperlukan untuk mewujudkan budaya organisasi
  3. Budaya dalam organisasi mencerminkan penampilan organisasi
  4. BO tumbuh melalui proses evolusi dari gagasan yang diciptakan pendiri dan ditanamkan kepada para pengikut.
  5. BO dikembangkan sesuai dengan perkembangan  lingkungan dan kebutuhan organisasi
  6. Masalah penting dalam pengembangan budaya organisasi adalah faktor sumber daya manusia


CIRI BUDAYA ORGANISASI
(Robert Kreitner &Kiniki ;  2001)
  1. Perusahaan mungkin tidak hanya mempunyai satu budaya (dominant  culture dan beberapa subculture yang berbeda)
  2. BO cenderung berubah sepanjang waktu
  3. Tidak perlu satu budaya lebih baik atau lebih buruk dari lainnya
Dalam budaya adaptive organisasi; dominant, subculture, core values, strong &weak culture, appropriate   

Dominant;
Budaya yang berlaku secara menyeluruh di dalam org, merupakan pandangan makro terhadap yang memberi warna kepribadian yang berbeda. Membedakan satu organisasi dengan organisasi lainnya.

Subculture
Budaya yang ada dalam unit kerja yang menjadi bagian dari keseluruhan organisasi. Subculture merupakan budaya mini dalam organisasi.

Core Values
 Merupakan kandungan dominant culture yang memuat nilai-nilai utama atau dominan yang diterima seluruh organisasi. Jerald Greenberg memberikan pandangan tentang core values;
1.                  Sensivitas pada kebutuhan pelanggan
2.                  Berkepentingan pada pekerja yang mempunyai gagasan baru
3.                  Kesediaan menerima resiko
4.                  Nilai yang ditempatkan pada orang
5.                  Keterbukaan opsi komunikasi yang tersedia
6.                  Persahabatan dan keserasian pekerja satu sama lain.


Komponen nilai;
 1.                  Konsep atau keyakinan
2.                  Menyinggung hasil atau perilaku yang diharapkan
3.                  Menunjukkan situasi penting
4.                  Pedoman seleksi atau evaluasi perilaku
5.                  Diperintah oleh kepentingan relatif


appropriate

Budaya dalam suatu organisasi perlu sesuai dengan kebutuhan organisasi dan lingkungan yang dihadapi, perlu pengambilan keputusan yang cepat maka perilaku birokrasi bukan budaya organisasi yang tepat.


Adaptive dan Unudaptive,

  1. Hanya budaya yang dapat membantu organisasi mengantisipasi dan menyesuaikan perubahan lingkungan akan berkaitan dengan kinerja tinggi untuk jangka panjang
  2. Adaptive culture memerlukan pengambilan resiko, kepercayaan dan pendekatan proaktif terhadap kehidupan organisasional maupun individual
  3. Unadaptive culture atau budaya yang tidak adaptif biasanya sangat birokratis. Orangnya reaktif, menolak resiko dan tidak kreatif. Informasi tidak mengalir cepat dan mudah di seluruh organisasi. Kontrol yang luias menghambat motivasi dan antusiasme


 BUDAYA ORGANISASI
  • Edgar Schein ; budaya organsisasi adalah filosofi yang mendasari kebijakan organisasi, aturan main untuk bergaul dan perasaan atau iklim yang dibawa oleh persiapan fisik organisasi.
  • Stephen Robbins; persepsi umum yang dipegang oleh anggota organisasi, suatu sistem tentang keberartian bersama. Budaya organisasi berkepentingan dengan bagaimana pekerja merasakan karakteristik suatu budaya organisasi.

 
MITOS BUDAYA ORGANISASI
TERRENCE E. DEAL
  1. Budaya merupakan alat yang cepat untuk menetapkan setiap persoalan
  2. Budaya dan strategi tidak ada hubungannya satu sama lain
  3. Budaya menolak semua perubahan
  4. Perubahan budaya dapat dikelola
  5. Kepemimpinan tingkat atas merupakan kunci untuk menanamkan budaya korporasi yang kuat.
  6. Orang bergantung pada budaya yang diketahui bahkan ketika sudah tidak relevan lagi.
  7. Strong culture bersifat monolitis
  8. Budaya tidak untuk setiap orang



TIPE BUDAYA ORGANISASI
1.                  Monoculture
2.                  Superordinate culture
3.                  The divisive culture
4.                  The disjunctive culture

  • Monoculture : program mental tunggal, orang berpikir sama dan sesuai dengan norma budaya yang sama
  • Superordinate culture : terdiri dari sub culture terkoordinasi, masing-masing dengan keyakinan dan nilai-nilai, gagasan dan sudut pandang sendiri tetapi tetap bekerja dalam organisasi dan  termotivasi mencapai sasaran organisasi
  • The  divisive culture : bersifat memecah belah, sub kultur dalam organisasi secara individu mempunyai tujuan dan agendanya sendiri
  • The disjunctive culture: ditandai seringnya pemecahan organisasi secara eksplosif dan bahkan menjadi unit budaya individual


TIPE BUDAYA – STEPHEN ROBBINS

  1. Networked culture : anggota sebagai teman/keluarga. Budaya ini ditandai tingkat sosiabilitas atau kesenangan bergaul tinggi dan tingkat solidaritas rendah
  2. Mercenary culture: organisasi fokus pada tujuan. Tingkat sosiabilitas rendah dan tingkat solidaritas tinggi
  3. Fragmented culture: organisasi yang dibuat oleh para individualis (low sociability, low on solidarity)
  4. Communal culture: organisasi menilai baik persahabatan dan kinerja (high on sociability, high on solidarity)

Menurut Jerome Want

  1. Predatory cultures; tidak mempunyai visi yang bersifat memotivasi dan strategis yang mengikat perusahaan bersama
  2. Frozen cultures; mempunyai kebencian pada inovasi dan pengambilan resiko
  3. Chaotic cultures, mudah menerima kepemimpinan, namun dapat bertindak tidak konsisten apabila kinerjanya terus melemah
  4. Political cultures; mempunyai misi dan strategi yang didefinisikan dengan baik tetapi tidak diimplementasikan secara konsisten
  5. Beureaucratic culture; sikap paqndang, bukan hanya dari ukuran dan struktur, menjadi model masyarakat modern untuk pelanggan
  6. Service culture; budaya perubahan atau budaya kinerja pertama
  7. New age cultures; merupakan tipe budaya menciptakan perubahan di pasar, menciptakan pasar baru, bukan hanya produk baru.


KARAKTERISTIK BUDAYA
GEERT HOFSTEDE

  • Power distance; suatu tingkatan dimana pembagian kekuasaan tidak sama; diterima orang dalam budaya (high power distance) atau ditolak oleh mereka (low power distance)
  • Individualism versus collectivism; individualism ->lebih memperhatikan diri dan anggota keluarga dekat. Collectivism -> karakteristik budaya yang berorientasi pada orang dan demi kebaikan kelompok.
  • Quantity of life versus quality of life
  • Uncertainty avoidance
  • Long term versus short term orientation

Jerald greenberg

  • Innovation ;kreatifitas, gagasan baru
  • Stability; menghargai lingkungan yang stabil, dapat diperkirakan dan berorientasi pada peraturan
  • Orientation toward people
  • Result orientation
  • Easygoingness
  • Attention to detail
  • Collaborative orientation